LOADING

Pencarian InsCinema

BAHASA INDONESIA DITENGAH IMPORTIR KATA-KATA

By Admin InsCinema 22 Oct 2020
16Shares

“Sori, lagi gak ada doku, bokap belum ngasi”
“Saking sibuknya lupa download schedule WFH pekan ini”
“Beb, bolehkah kusimpan senyumnya”
“Lagi gak bawa helm dua, gue gak berani boncengin coz biasanya di perempatan ada isilop”

Beberapa contoh cuplikan  kalimat di atas sekadar memberi gambaran betapa untaian kata yang sering diucap serta didengar sehari-hari adalah hasil  comot bahasa sana sini, dan kenyataannya ada kata yang bukan bahasa Indonesia. Ada yang berasal dari bahasa asing, bahasa daerah, bahasa slang dan bahasa walikan yang huruf pada susunan katanya dibalik khas kera ngalam (arek Malang). Belum lagi ditambah perbendaharaan bahasa warganet yang varian mazhabnya terdiri dari Instagram, Youtube Facebook dan Twitter.

Oktober ini adalah bulan bahasa dan berkorelasi dengan sumpah pemuda yang pernah di ikrarkan pemuda-pemudi bangsa pada 28 Oktober 1928 tempo dulu. Semangat ini penting terus diperbaharui pada segala aspek dan konteks kehidupan.  

Kejadian mencampur bahasa bisa disebabkan beberapa kemungkinan, diantaranya: tidak tahu padanan kata yang dimaksud bila dikonversi dalam  bahasa Indonesia, tidak atau belum ada padanan kata yang cocok, agar terlihat intelek, menutupi kekurangan dan lain lain silahkan terusin sendiri. Padahal di kampus terkemuka seperti Yale, John Hopkins, Leiden, University of Melboune, University of Hawai terdapat kajian tentang bahasa Indonesia. Sebuah indikator signifikan kalau bahasa Indonesia laik dan menjadi objek sains serta diminati oleh bangsa lain.

Dalam realitas kesehariannya, adalah hal biasa berkomunikasi dengan pola mencapur beberapa kata yang berasal dari berbagai bahasa. Lalu merangkai dan menggunakannya dalam satu kalimat. Persentase komposisi campurannyapun suka suka pemakai alias tidak ada ketentuannya. Terserah saja, intinya selagi bisa dipahami akan terus digunakan. Mencampur adukan bahasa bukanlah perbuatan kriminal. Bahkan hal ini sering dipertontonkan tokoh publik saat tampil di media massa.  Tidak masalah, asalkan bahasa campuran tadi dipahami oleh lawan bicara, target atau sasaran dari komunikasi. Alangkah baiknya ketika hendak gunakan bahasa campuran haruslah disesuaikan dengan konteks acara dan medianya.

Aktifitas mencampur kata kata dari berbagai daerah atau dari bahasa asing sulit untuk dihindari pada beberapa hal. Mengingat ada kata dalam bahasa Indonesia belum secara optimal bisa merepresentasi bahasa asing dalam suatu konteks tertentu. Seperti halnya perintah sutradara kepada juru kamera untuk menggambil wajah artis dalam suatu adegan. Ditembak dekat wajahnya padahal maksud sutradara tadi ialah shoot close up wajahnya. Mencampur aduk kata pada suatu rangkaian kalimat adalah wajar, apalagi memang tidak ditemukan padanan kata yang cocok jika dikonversi kedalam bahasa Indonesia. Namun perlu diingat dosis campurannya jangan kebanyakan. Sebab bisa bikin orang lain mabuk dalam memahami isi pernyataannya.

Ada juga yang gunakan potongan-potongan kata bahasa asing agar bisa dicap intelek oleh lawan bicaranya. Atau malu terbongkar logat dialek aslinya oleh lawan bicara atau khalayak. Seperti yang diutarakan Erving Goffman dengan konsep manajemen impresi (impression management). Ide Goffman menegaskan bahwa isi pernyataan berupa kata-kata  dapat menggambarkan dan membentuk persepsi orang lain terhadap diri kita. Alih alih pake bahasa asing akibat malu dengan logat dialek daerahnya yang kental.

Melakuan tindak manajemen impresi sah sah saja, asalkan lawan bicara mampu memahami perkataan komunikator. Fenomena ini adalah hal lumrah dalam perspektif komunikasi. Tapi resikonya akan konyol ketika pengucapan atau pelafalannya keliru. Dari pendangan ilmu komunikasi masalah muncul apabila kata dari bahasa (asing) yang digunakan ternyata dipersepsi berbeda oleh komunikan atau malah tidak dipahami sama sekali.  Tapi masalah bahasa dan persatuan tidak sebatas pada satu perspektif komunikasi saja. Ada banyak variabel yang konsep intinya adalah mengarah pada persatuan.

Sebenarnya tidak sedikit dari kita adalah importir kata bahasa asing, baik ketika  berkomunikasi pada dunia nyata ataupun saat bermedia. Perjuangan terus berlanjut untuk bisa menjadikan bahasa Indonesia sebagai tuan rumah dan alat pemersatu. Para pendiri bangsa terdahulu telah memprediksi akan hal ini sejak tahun 1928 lalu dan membuat sumpah pemuda yang salah satu butirnya adalah ~ Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia~. Karena memang tidak mudah menyatukan bangsa sampai sekarang ini walaupun sekadar dari aspek bahasanya saja. Terbesit cita-cita mulia dari ikrar tersebut yakni menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa prioritas anak bangsa saat sedang berkomunikasi.  Mari utamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam aktfitas sehari-hari.

Mungkin hanya negara Indonesia saja yang memiliki momen bulan Bahasa. Dan hanya warga Indonesia juga yang sebagian penduduknya gemar mengimpor kata-kata.  (iwn)

Artikel Lainnya

Sign In Online Learning

Trainee Room

Trending
Popular