LOADING

Pencarian InsCinema

Detektif Medsos, Agenda Setting & Otoritas Publik

By Admin InsCinema 07 Dec 2020
16Shares

Belakangan warganet dihebohkan dengan beredarnya video dinosaurus dari jenis triceratops yang sedang diturunkan dari truk. Binatang purba yang dikepalanya terdapat tiga tanduk dan punya lapisan seperti tameng yang melingkari lehernya. Saat awal muncul video tersebut belum ada keterangan resmi, persis sebagaimana laiknya di medsos.  Hal ini sempat membuat jamaah medsosiyah mendadak panik. Binatang purba yang data ilmiahnya hidup ratusan juta tahun lalu bisa hadir kembali dengan latar suasana covid.  Sebab pada video nampak orang-orang disekitarnya menggunakan masker. Ada apalagi dengan negeri ini, begitu mungkin batin warganet.
Dalam video terlihat nyata binatang yang berukuran besar tersebut membuat beberapa orang yang di dekatnya harus berjibaku dengan tindakan tegas dan terukur untuk mengendalikan dinosaurus. Dalam hal ini ketika menurunkannya dari truk. Sementara dinosaurusnya sendiri ialah jenis hewan purba yang diyakini telah mengalami kepunahan dan hidup ratusan juta tahun lalu. Ini lantas menimbulkan sejumlah perdebatan panjang diantara warganet mengenai keaslian sang dinoasurus triceratops pada video tersebut.
Satu sisi bertolak belakang dengan logika, mengingat masa hidup dinosaurus yang tidak lagi dijamannya. Tapi pada sisi lain ada keraguan. Sebab terlihat jelas ada orang mengenakan pakaian non baju bebas yang berada di lokasi dan sikapnya seperti mengawasi proses penurunan dinosurus dari truk. Silang pendapat antar warganet terjadi.  Masing-masing argumen sah saja, berpendapat pun juga tidak dilarang. Silahkan mau pilih yakin dengan kebenarannya atau mau yakin dengan keraguannya,  yang penting jangan yakin dengan kesalahannya.
Naluri ingin tahu warganet terus memotivasi panca inderanya untuk berburu fakta lain yang sekiranya bisa memuaskan naluri tersebut. Toh sudah fitrahnya kebenaran akan jumpai jalannya sendiri.
Seperti biasa jiwa detektif netizen pun bergejolak. Ada yang menganalisa nomor plat truk yang digunakan untuk mengangkut, ada juga yang menelaah bentuk dinosaurusnya, sebagian ada yang fokus pada pakaian orang-orang yang berada disekitaran dinosaurus dan truk. Lalu tidak sedikit yang mempertanyakan siapa yang berani nekat memasang tali pada leher binatang purba itu. Ada pula yang meneliti bentuk masker orang-orang yang terlibat penurunan si dinosaurus dari truk serta ada juga yang kritisi akun yang memposting video itu. Pokonya semua yang ada pada video tidak luput dari penelusuran  para warga. Kerja investigasi warganet sudah melampaui tokoh fiktif detektif Sherlock Holmes atau Hercule Poirot dalam novel legendaris karangan Agatha Christie.
Terlihat ada debat di ruang publik akan peristiwa ini. Ini merupakan hal baik sebagai nutrisi untuk menyehatkan logika publik. Membaca komentar-komentar pada media sosial yang ditulis oleh warganet akan peristiwa ini sangat medsosable. Seperti biasa ada pola pro-kontra lalu muncul meme yang merepresentasi suatu peristiwa.
Pada awalnya banyak yang mengira binatang pada video tersebut asli. Ada juga yang meragukannya dan berpendapat bahwa binatang dalam video itu adalah gimmick belaka alias buatan. Bisa dikatakan mau ngeprank warganet.  Sebagai upaya menarik impression dan engagment yang berujung pada promosi. No problemo dengan pola marketing seperti, jelas sama sekali tidak masalah.  Namun demikian keyakinan dan opini publik sempat  sempat terpecah mengenai keaslian binatang purba yang tiba-tiba hadir sudah sebesar itu, dan by the way siapa yang melihara? Uniknya pihak yang saling berdebat mengenai keaslian binatang tersebut sepakat mengenai fakta peristiwanya. Yakni ada video dinosaurus turun dari truk.
Dinamika komentar pada medsos memang semakin liar bila tidak ada pihak resmi atau yang kredibel serta kompeten dalam memberikan informasi. Meskipun demikian, terkadang warganet masih tidak percaya apabila informasi yang diberikan pihak berkompeten ternyata masih meninggalkan kejanggalan dan mengusik nalarnya. Lazimnya publik cenderung memilih yang searah serta seiring dengan logikanya. Dan inilah yang biasanya diterima sebagai kebenaran, walau terkadang juga mereka paham yang berseberangan dengan logikanya pun belum tentu salah.
Sampai akhirnya silang pendapat tentang keaslian dinosaurus triceratops berhenti setelah warganet memperoleh  keterangan informasi yang kredibel, kompeten dan kongruen dengan logisnya. 

Siapapun dengan gunakan apapun bisa dan punya kendali untuk mensetting konten media alias melakukan agenda setting, tapi publik punya otoritas serta instrumen sendiri dalam menerima tiap konten yang berinteraksi dengan peralatan jasmani serta rohaninya. (iwn) 

Artikel Lainnya