LOADING

Pencarian InsCinema

Karyawan Tradisional – Karyawan Non Tradisional

By Admin InsCinema 31 Aug 2020
16Shares
Apakah Anda karyawan? Bila jawabannya “ya” sepatutnya segera ucapkan Alhamdulilah. Karena tidak sedikit yang ingin meraih status karyawan ini melalui berbagai bentuk pengorbanan dan perjuangan. Dan jangan lupa, sebagai karyawan Anda dituntut untuk selalu meningkatkan kompetensi dan kualifikasi yang sesuai dengan bidang kerja. Cara ini sebagai upaya agar bisa bertahan dan syukur-syukur mampu meningkatkan jabatan atau pangkat golongan. Insya Allah hal ini akan berpengaruh juga pada peningkatan kualitas hidup.

Merujuk pada judul tulisan, maka istilah penggunaan diksi karyawan tradisional dengan karyawan non tradisional pada tulisan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pengunaan alat atau metode karyawan saat menyelesaikan atau menjalankan pekerjaanya. Siapapun bisa menggunakan istilah apapun untuk fenomena yang akan diuraikan disini. Tapi kebetulan posisi Anda pembaca, maka otoritas pemilihan kata ada pada pihak penulisnya. He hee ....

Antara karyawan satu dengan karyawan lain statusnya boleh sama, yakni sama sama karyawan. Tapi jauh dibalik status itu akan terdapat beragam perbedaan, termasuk pola pikir, watak, sikap hidup serta filosofis yang dianutnya.

Karyawan tradisional biasanya cenderung untuk nrimo konsekuensi dirinya sebagai manusia yang bekerja pada orang lain, digaji orang lain dan andai pun mengeluh paling banter hanya dihati saja. Bahkan untuk mengeluh di media sosial pun dirinya sungkan. Istilahnya gak bakalan protes- protes, gugat-gugat apalagi demo turun ke jalan untuk menuntut yang boleh jadi mungkin memang haknya.  Ini jenis karyawan yang bermazhab kerja adalah ibadah. Dengan bekerja ia dapat nafkah sekaligus juga pahala karena ibadah. Istilahnya buy one get two.

Mengeluh dan menuntut memang kurang elok dan tidak baik. Terlebih bagi kita bangsa timur. 

Karyawan non tradisional tidak mengeluh tapi cenderung kritis. Karyawan non tradisional benar-benar merinci setiap peluh yang ia keluarkan dengan materi yang harus ia peroleh. Ada konversi nilai secara presisi antara pekerjaan yang dilakukan dengan transferan akhir bulan. Karyawan jenis ini juga menganggap bahwa  kesejahteraan dirinya beserta keluarganya adalah aset perusahaan yang harus dijaga dengan baik dan menjadi tanggung jawab bosnya. 

Dalam praktik kesehariannya perbedaan karakter antara dua jenis karyawan di atas memang tidak mutlak nyata. Tidak selamanya terlihat seperti kontrasnya warna hitam dan putih atau terangnya siang dan gelapnya malam. Kata orang Belanda tidak zakelijk. Sebab dalam dunia ini selalu saja ada yang bersikap di tengah-tengah atau abu-abu. Termasuk ada karyawan yang kadang dalam satu waktu ia nrimo, tapi  pada waktu lain ia ngeluh juga soal fasilitas. Namun dalam fenomena di atas, sudah sangat jelas pilihan isme antara karyawan tradisional dengan karyawan non tradisional tidaklah sama.

Yang tradisional akan menerima gaji dengan iklas tanpa bereferensi dengan aturan UMR ataupun ijazah formal yang dimilikinya. Sedangkan yang non tradisional akan ber misuh-misuh ria apabila dibayar dibawah UMR. 

Sekilas akan terlihat yang satu pasrah dan yang lainnya seolah agresif. Akan tetapi coba diubah pendekatannya. Sekarang dilihat dari sudut pandang perusahaanya. Ada perusahaan yang memang sadar akan hak-hak karyawannya dan memberikan hak tersebut. Kenyataanya ada pula perusahaan yang justru memanfaatkan faktor angka pengangguran di negara ini. Perusahaan akan semena-mena memperlakukan karyawannya dengan mengabaikan haknya. Bila tidak terima monggo layangkan surat resign, toh masih banyak tenaga kerja lain yang akan menggantinya.  Tapi ada juga perusahaan yang sejak awal sudah utarakan kekurangannya sehingga karyawan pun bisa menerima apa adanya.

Pada akhirnya pilihan ada pada Anda. Mau jadi karyawan tradisional atau karyawan non tradisional? Atau mungkin memilih menjadi BOS nya karyawan. (iwn)

 

Artikel Lainnya

Sign In Online Learning

Trainee Room

Trending
Popular