LOADING

Pencarian InsCinema

Kepencet & Jejak Digital Medsos

By Admin InsCinema 07 Jan 2021
16Shares

Namanya saja kepencet pastinya tidak sengaja. Dan tidak sengaja identik dengan tidak punya maksud atau tidak ada niat. Pada kasus kepencet tidak ada unsur kendali oleh subjek yang melakukan tindakan. Warganet di seberang sana tidak ambil perduli dengan perbuatan kepencet itu. Mereka tahunya adalah hitam putih yang  tertera pada akun medsosnya. Asumsinya yang bersangkutan sengaja mencet. Meski faktanya tidak demikian. Seolah mabuk logika, padahal tidak selamanya silogisme -jika maka- bisa dijadikan sandaran yang absolut.

Kepencet tidak senyaman dengan sengaja memencet. Penjelasan dengan kalimat memang terkesan sederhana. Tapi dalam dunia permedsosan hal ini akan jadi prahara luar biasa. Sebab hasil dari salah pencet bisa didokumentasikan oleh warganet menjadi jejak digital.

Ironisnya lagi apabila akun kita ngelikes konten tertentu yang sangat jauh dengan citra diri yang selama ini dibangun mati-matian. Padahal faktanya kepencet. Udah gitu sadarnya ketika kawan memberi info. Nasihat yang pas untuk kasus ini ialah hati-hati bermedsos.  Main api tanggung sendiri akibatnya.  

Salah satu contohnya ialah tidak sengaja kepencet follow atau likes ketika stalking di media sosial. Itu  rasanya itu sepertiii .... 

Awalnya hanya sekadar lihat-lihat sesuatu yang nampak 'indah' eeh malah kepencet. Kasus kepencet saat bermedsos bisa terjadi dalam banyak varian namun tetap satu rasa yaitu rasa gak nyaman atau bahkan mungkin malu. Seperti halnya kepencet nge follow dan kepencet likes akun selebgram yang katakanlah semongko,kepencet instastory warganet lain, atau tindakan kepencet lainnya yang berpeluang meruntuhkan citra diri. 

Dalam formula penciptaan media sosial tidak mengakomodir perbuatan kepencet. Aplikasi media sosial dibuat dengan rancangan program untuk hal yang disengaja atau diniatkan. Logika biner yang dipakai adalah 1 dan 0. Jika tidak begini maka begitu. Itulah rumusan bakunya. Sudah ada programnya, jadi wajar saja bila sesuatu yang tidak diprogramkan tidak akan bisa diproses atau terdeteksi oleh sistem. Fenomena kepencet tidak termasuk dalam program yang dibuat oleh para insinyur serta programmer yang merancang aplikasi media sosial tersebut. 

Tapi dalam beberapa kasus kepencet ada mekanisme untuk membatalkan. Walaupun ada juga yang tidak bisa dianulir, seperti halnya tidak sengaja kepencet status instastory warganet lain. Ini tidak bisa di undo. Otomatis si pemilik status IG itu akan mengetahui siapa yang melihat storynya. Bagi sebagian user yang melakukan tindakan kepencet tadi akan merasa tidak nyaman. Sebab yang dilakukannya tidak atas kesadaran pribadinya dan bukan motifnya, melainkan tidak sengaja kepencet.  Apalagi tidak sengaja mencet instastory sang mantan.  Jika sudah begini tidak berlaku istilah isi diluar tangung jawab redaksi. Pahitnya, bisa di screen shoot dan disebar ke circle nya dengan ditambah komen susah move on lah dan seterusnya-seterusnya.  Yang semula situasi adem tentram malah mencekam. Jejak digital lebih kejam dari ibu kota bahkan ibu tiri sekalipun.

Pada media sosial memang terdapat celah untuk tindakan manusiawi yang terkait fenomena tidak sengaja kepencet. Saatnya di awal tahun 2021 ini kita yang  manusia memaklumi lubang ini.  Lalu sebagai user jangan keburu ge er apabila konten kita di likes atau instastory nya dilihat oleh si dia. Sebab jangan-jangan perbuatan tersebut bukan atas dasar tindakan komunikasi yang terukur olehnya, melainkan tidak sengaja kepencet.  

Sejauh ini belum ada referensi dari  perspektif ilmiah (dalam kajian komunikasi)  untuk tindakan tidak sengaja kepencet dalam bermedia sosial.  Silahkan saja mungkin dari sidang pembaca disini ada yang terinspirasi untuk mengkonstruk aksioma awal tentang fenomena kepencet pada media sosial. Sehingga bisa dijadikan kajian ilmiah buat simposium dengan tema fenomena kepencet pada media sosial dalam perspektif dan terminologi komunikasi.

Namun demikian sudah sewajarnya sebagai user media sosial yang manusiawi memberi ruang pemakluman dengan adanya fenomena tidak sengaja kepencet ini.  Sistem yang digunakan pada media sosial memang dirancang dengan logis serta digital, tapi fenomena kepencet sangat manusiawi terjadi. Sekarang ini berhati-hati tidak hanya di jalan tapi juga saat bermedia sosial. (iwn) 

Artikel Lainnya