LOADING

Pencarian InsCinema

Malas dan Menyulut Potensi Keterampilan Melalui LPK

By Admin InsCinema 25 May 2020
16Shares

Malas dan Menyulut Potensi Keterampilan Melalui LPK

Tidak ada satupun yang mampu menyanggah bahwa bidang pekerjaan apapun secara absolut membutuhkan keterampilan. Ini merupakan premis yang tidak bisa dibantah. Mau jadi montir mobil di bengkel ? Yah harus terampil menangani mesin mobil. Pengen sukses jadi Public Speaking ? Ya wajib terampil bicara di depan publik. Premis ini Insya Allah berlaku untuk profesi apapun dengan kondisi yang tidak akan alami kadaluarsa atau expired. Keterampilan dalam melakukan bidang pekerjaan atau hard skill sangat dibutuhkan pada dunia kerja, walau tetap harus diimbangi dengan soft skill. Tapi tulisan ini hendak menyoroti tentang keterampilan saat melakukan pekerjaan atau hard skill.
Ijazah formal penting dalam mencari atau melamar pekerjaan, tapi keterampilan (skill) juga tidak kalah penting. Apalah artinya ijazah sekolah teknik bila hanya mampu memutar sekrup diatas kertas. Tidak ada pengusaha yang mau menerima kenyataan ketrampilan muter sekerup di atas kertas tersebut. Inilah realitas dan ironisnya berlaku tanpa batas.
Begitu banyak jejak digital yang berserakan di alam maya bahwa ada orang-orang terampil yang sukses dalam membangun sebuah usaha bahkan mengubah peradaban dunia tanpa surat keterangan lulus resmi dari sekolahnya. Dan jumlah kekayaan yang dimilikinya sangat fantastis.  Salah satu contohnya Mark Zuckerberg yang aplikasi miliknya kita gunakan tiap saat yakni WhatsApp, Facebook, Instagram, baik itu untuk bekerja, silaturahim, penggiringan opini bahkan riya sosial. Ia adalah sosok terampil yang tidak memegang surat lulus dengan cap basah resmi dari kampusnya. Begitu juga dengan Bill Gates yang membangun Microsoft. Dua tokoh ini sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Betapa tidak, saat ini dunia dipengaruhi oleh teknologi hasil karya keduanya. Dan mereka adalah sosok orang-orang terampil serta kompeten dalam bidangnya. Tulisan ini bukan menganjurkan untuk tidak sekolah. Tapi lebih pada memprovokasi agar terampil dalam suatu bidang. Karena terampil dan berijazah adalah kondisi yang paling ideal.
Sebagai mahkluk yang hidup di era sekarang ini, memiliki keterampilan tertentu sudah tidak bisa dihindari  lagi, terlebih bila kita ingin melakukan wirausaha. Dunia usaha membutuhkan insan-insan terampil, kreatif, serta inovatif. Tanpa keterampilan maka ijazah formal tidak akan mampu banyak membantu anda. Keterampilan dalam melakukan pekerjaan bukanlah pemberian Tuhan kepada kita. Manusia dengan peralatan default jasmani dan rohani yang diberikan oleh Tuhan adalah manusia super. Bisa melakukan pekerjaan apapaun asalkan tidak menyalahi kodratnya sebagai manusia. Dan syarat untuk menjadi super cukup sederhana, yakni mampu memerangi pertarungan dengan rasa malas. Sebab sifat malas seringkali tidak terdeteksi oleh yang sedang merasakan malas. Bila sudah tidak terdeteksi gini, jangankan untuk memerangi pertarungan, lah wong musuhnya saja tidak dikenal. Terkadang malas bisa menjelma dalam berbagai bentuk. Salah satunya rasa segan, rasa sungkanmalu, atau bentuk rasa gak pede. Bahkan sekarang istilah malas sudah mengalami permisivisme alih-alih kondisinya sedang mager alias malas gerak.  Segan, sungkan, malu, gak pede, mager adalah atribut-atribut dari konsep malas yang sering kita rasakan. Saya merasa sangat kompeten untuk menulis tentang malas ini, karena saya sendiri juga sering merasa malas, meski dengan susah payah akhirnya berani melawannya.
Ok, kita sudahi cerita tentang malas, karena tidak ada faedahnya. Mari kembali ke urusan terampil. Terampil hanya bisa diperoleh dengan proses rangkaian latihan aktifitas sinergis baik fisik dan psikologis yang didasari oleh kaidah-kaidah pengetahuan atau teori terhadap suatu hal. Terampil bisa diperoleh secara sendiri melalui latihan mandiri. Namun demikian, mau sampai kapan kita berproses ke arah terampil. Sementara persaingan semakin ketat, hukum siapa cepat dia dapat masih berlaku pada dunia kerja dan dunia usaha sampai detik ini.
Lembaga pelatihan keterampilan (LPK) bisa menjadi salah satu faktor untuk menambah akselarasi dalam proses memperoleh keterampilan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Kemdikbud) kata pelatihan mengandung makna proses. Dengan demikian dipahami bahwa keterampilan sebagai suatu aktifitas yang berproses dan seharusnya simultan.  Proses percepatan untuk memiliki keterampilan  akan bertambah apabila dibantu oleh tutor/instruktur yang  terampil dan berpengalaman, dalam hal ini di lembaga pelatihan. Melalui pelatihan maka potensi kemampuan manusia akan cepat tersulut. Dan proses meraih keterampilan akan lebih cepat apabila dilatih oleh praktisi yang berpengalaman pada bidangnya.  (iwn)

 

Artikel Lainnya

Sign In Online Learning

Trainee Room

Download Form APL 1, APL 2, SKKNI dan Skema

Syarat yang harus dikumpulkan adalah :
1. Foto Copy KTP 1 lembar
2. Foto terbaru ukuran 3 X 4 : 1 lembar (Background Merah)
3. Print out dari website InsCinema Form APL 01 dan APL 02 juga syarat dan ketentuannya.
4. Portofolio hasil karya fotografi (Tehnik Dasar Fotografi)
5. Portofolio utk asisten produser, operator kamera dan editing adalah karya audio visual. Karya yang sudah kalian buat ditunjukkan ke Asesor saat ujian. Bisa melalui Laptop atau Hp

Syarat dimasukan ke dalam amplop coklat besar yg ada berkait tali