LOADING

Pencarian InsCinema

Pilih Kuliah & Mitigasi Bencana Perkuliahan

By Admin InsCinema 10 Feb 2021
16Shares

Kuliahnya ambil apa ?

Bagi mahasiswa baru, pertanyaan tersebut bisa didengar dua sampai tiga kali dalam sehari. Lazimnya terjadi sesaat setelah menyandang status mahasiswa. Jangan sampai program studi yang diambil hanya nyaman disebut tapi alami kesulitan ketika proses perkuliahan.

Menjerumuskan diri pada suatu program studi hanya karena gombalan si dia, alasan cinta serta teman seperkongkoan senja adalah kekonyolan yang absolut. Atau memilih prodi hanya karena lihat iklan kampus dengan iming-iming ‘lulus langung kerja’  tanpa ada opini kedua sebagai penyeimbang. Gak ada tuh lulus langsung kerja dan digaji sesuai keinginan.  Pasti ada syarat yang menyertainya.  Ini bukan hendak mendeskreditkan produk iklan. Tapi demi apapun yang namanya iklan pasti ada sentuhan unsur ‘marketing’ yang gunanya meningkatkan sesuatu elemen yang diiklankan tersebut. Loh kenapa jadi omongin iklan? Kembali kepada kajian awal tentang memilih kuliahan. 

Urusan pilih program studi (prodi) diupayakan seobjektif dan seselektif mungkin. Jangan sampai salah pilih dan selanjutnya gelar yang diperoleh pun sebatas M. A Lus alias Mahasiswa Ampir Lulus. Milih prodi harus selektif, ekstremnya seperti halnya memilih jodoh. Tapi tidak harus gunakan metode analisa aspek bibit, bebet bobot.

Masuk kuliah itu diawali dengan niat dan cari jurusan yang tepat. Tepat dalam artian tidak hanya sesuai dengan minat, bakat, kemampuan kognitif tapi juga sinkron dengan kondisi dompet serta yang penting prospek lulusan di masa depan. Lalu sikap pantang menyerah dengan penugasan yang datang silih berganti serta bentuk ujian (UTS - UAS) yang variatif.  Dan yang tidak kalah pentingnya utamakan doa dan restu orang tua. Jangan mentang-mentang merasa calon mahasiswa. Hanya karena ada kata ‘maha’ sebelum kata ‘siswa’ lalu merasa jumawa dan tidak mau lagi menggubris pendapat orang tua yang kasih masukan. Hati-hati bisa durhaka.

Program studi yang dipilih nantinya sedikit banyak berkontribusi kepada masa depan. Jikalau pun dipaksakan khawatir ditengah jalan tugas-tugas kuliah yang harusnya dikerjakan eeh malah dikeluhkan dan dijadikan beban. Lalu diunggah pada medsos dan ironinya ada oknum yang malah subjek tugasnya dideskreditan buat olok-olokan. Ini sungguh mengenaskan. Untuk mitigasi bencana perkuliahan seperti ini, maka tidak ada salahnya sebelum daftar dan setor uang pembangunan sebaiknya konsultasi dulu. Syukur-syukur punya kerabat, saudara, kenalan yang aktifitas kesehariannya berhubungan dengan kegiatan sivitas akademik suatu kampus. Atau apes-apesnya manfaatkan hp pintar yang dimiliki. Daripada hp cuman dipake nemenin rebahan sambil stalking gak jelas atau mabar online. Toh cari info di internet tidak butuh diamond seperti laiknya bermain ML, FF dan sejenisnya.

Akan lebih bermanfaat jika hp itu digunakan pada jalan keberkahan. Cukup dengan modal kouta satu GB sudah bisa difungsikan untuk bertanya-tanya tentang prodi kuliahan dan prospek lulusannya di masa depan kepada ahlinya ahli di dunia maya. Siapa lagi kalo bukan mbah Google.  Silahkan stalking tuh website resmi kampus-kampus. Kulik lagi fokus materi bidang pelajaran yang diminati sampai aplikasi ilmunya dalam kehidupan. Lalu cari tahu profesi apa yang akan sinkron dengan prodi yang diincar. Dan karir prospek lulusan tersebut  pada era disruptif 4.0 dan era 5.0 dimasa yang akan datang  atau bila perlu sekalian era beyond milenium. Atau cari kuliah yang ilmunya bisa berguna untuk dunia akhirat. Sebab kalau dari perspektif ‘masa depan’ yang hakiki  biasanya prodi yang berkaitan dengan ilmu dunia akhirat sangat prospekable. Dunianya dapet akhiratnya juga dapet. Ibarat beli satu dapat dua. Semuanya informasi ini tersedia di internet dan bisa diperoleh melalui hp.

Namun ada juga calon mahsiswa yang memilih kuliah dengan tutup mata terhadap prospek lulusannya dimasa yang akan datang. Cukup bereferensi melalui minat dan bakat yang terdapat pada dirinya. Karena meyakini bahwa semua ilmu pasti ada gunanya dan tidak melulu harus bersandar pada prospek peluangnya dalam dunia kerja. Untuk jenis calon mahasiswa yang model begini sih sah-sah saja. Ilmu yang ada pada kampus-kampus memang sebenarnya tidak  harus selamanya dihubungkan dengan prospekablenya pada dunia kerja. Terlebih sampai salah kaprah bahwa suatu ilmu dimitoskan dengan bekal kemudahan dalam mencari keuntungan materi dimasa datang. Padahal keuntungan berilmu tidak berbanding lurus dengan pencapaian materi dalam bentuk fisik. Ingat dalam bentuk fisik loh yah.

Memang sejatinya bekerja di perusahaan yang mentereng dengan take home pay bisa beli logam mulia serenceng bukan tujuan utama menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau universitas. Mampu memanusiakan manusia ialah salah satu ciri lulusan perguruan tinggi. Percuma bergelar tinggi lalu namanya dicetak dalam lembar ijazah tapi belum bisa respek pada orang lain. Yang bikin atau penemu ilmu yang bersangkutan juga bakal sedih dalam kubur apabila ilmunya hanya dipakai buat sekadar dapetin ijazah dan cari harta saja tapi tidak dipakai untuk kemaslahatan bersama.     

Walau memang diakui salah satu indikator kualitas penilaian suatu kampus adalah rasio mahasiswa yang lulus dengan jumlah serapannya pada dunia industri dan hubungan nyambung enggaknya dengan  program studi yang pernah diambilnya. Sekilas hal ini memang ideal, sementara masih ada persoalan ketika mahasiswa prodi ilmu filsafat yang merupakan induknya ilmu tetapi mahasiswanya masih rada bingung hendak magang dimana.  (iwn)

Artikel Lainnya