LOADING

Pencarian InsCinema

Posthuman, Belanja Online dan Cogito Ergo Sum

By Admin InsCinema 21 Sep 2020
16Shares

Ternyata diri ini telah mempercayai benda daripada manusia. Sudah berapa rupiah kita melakukan transaksi cashless dengan gunakan aplikasi pada telepon pintar. Lucu juga, kok bisa-bisa nya percaya menitipkan atau mengamanahkan duit melalui mesin yang tidak dikenal serta gak jelas identitasnya untuk disampaikan kepada seseorang yang dituju.
Berapa kilometer jalan yang sudah kita tempuh melalui aplikasi maps supaya tidak nyasar. Berapa jam waktu yang dihemat melalui features anti macet yang terdapat pada aplikasi tersebut. Kondisi yang menurut beberapa ahli futurustik dan filsafat disebut sebagai posthuman. Saat manusia melebur dengan teknologi yang diciptakannya sendiri
Pertanyaan-pertanyaan tersebut gak perlu dijawab, karena memang pertanyaan itu cuman retoris belaka. Peristiwa di atas pernah kita alami. Namun mungkin gak memikirkan betapa manusia lebih percaya kepada mesin daripada sesama manusia. Atau merenung tentang karyawan yang dipaksa keluar gelanggang ketenagakerjaan dan dirinya diganti mesin. Belum lagi lembaga pendidikan yang meluluskan anak didiknya terus menerus sementara peluang kerja kian sempit akibat mesin pintar yang gantikan posisi manusia. Alhasil potensi menganggur malah kian besar.
Hasil pikir serta kerja ilmuwan ilmuwan pada bidang sains dan teknologi ternyata menggoyahkan eksistensi manusia itu sendiri, termasuk pada lapangan pekerjaan. Posisi manusia sebagai sumber tenaga kerja yang digaji  pun terancam.
Pada  era kini mesin mulai menyamakan bahkan melebihi kemampuan kognitif manusia. Melalui perhitungan algoritma,  mesin malah bisa lebih presisi dalam membuat kalkulasi melalui probabilitas yang paling mungkin. Lalu menyajikannya kepada user dan siap untuk dieksekusi. Meskipun si pembuat mesin tadi adalah manusia itu sendiri, tapi untuk beberapa urusan justru mesin diyakini oleh sebagian umat manusia bisa lebih efektif, efisien. Sebab dengan asumsi pengerjaan yang dilakukan mempunyai tingkat akurasi tinggi, terpola serta sistemik dan mampu stabil pada kondisi apapun. Jelas sangat beda dengan keadaan manusia yang punya sifat manusiawi lengkap dengan unsur capek  dan nuntutnya. Tapi ingat, yang memerintahkan dan ngopenin mesin tersebut ya tetap manusia.
Teknologi Artificial Intelligence (AI)  diterapkan pada hampir semua lini kehidupan.  Atau ketika melalukan proses belanja online yang lebih mantab dibanding cara konvensional. Apalagi dengan promo ini itunya. Situasi yang lebih asyik daripada berjalan menyusuri los-los di pasar yang mungkin becek serta bahaya laten intaian para copet. Walaupun efek domino darinya akan banyak toko fisik dengan sekian jumlah karyawan yang harus dirumahkan. Namun tetap kemajuan teknologi gak bisa direm dan akan terus berlanjut.
Melalui teknologi AI, maka budaya dan pengalaman bertransportasi bahkan beli makanan berubah.  Hendak pergi kemanapun dan pesan makanan apa aja cukup klik melalui hp saja. Tidak perlu repot. Masyarakat pun antusias dengannya, walau masalah untung ruginya bagi mitra dan user dalam skala makro-mikro masih relatif serta absurd.
Pada dimensi kognitif, teknologi AI sudah bisa menggantikan mas-mas dan mbak-mbak yang jaga pintu tol, pelayan toko, teller bank, bahkan dokter.  Lalu tenaga kerja manusia mau ngapain lagi ? Hilang sudah lapaknya diganti mesin. Mungkin kedepannya AI akan menggantikan posisi teman dekat atau teman curhat bahkan teman tapi mesra. Ini ide yang mungkin sekarang dianggap mimpi, tapi entah beberapa tahun kemudian. Sebab mimpi tidak akan usang sebelum terwujud.
Sebenarnya untuk kondisi next atau selanjutnya, semua hal ini lumayan mengancam keberadaan manusia.
Sampai tulisan ini dibuat aspek dimensi humanis manusia memang belum bisa diambil alih oleh teknologi. Inilah yang seharusnya para manusia masih bisa unggul dalam eksistensinya. Selebihnya rasa khawatir tetap ada.
Saat ini teknologi telah mampu menyamai bahkan melampaui manusia. Karena kehadiran mesin yang "seolah" punya kesadaran seperti manusia. Walau sekali lagi ditekankan semua itu adalah buah pemikiran dan buatan manusia juga.

Fenomena ini membuat kita teringat dengan konsep cogito ergo sum yang dicetuskan oleh filsuf Prancis Rene Descartes. Eetapi saya modif dikit deh. Manusia akan tetap eksis selagi masih berpikir dan berupaya memanusiakan manusia lainnya. (iwn)

Artikel Lainnya

Sign In Online Learning

Trainee Room

Download Form APL 1, APL 2, SKKNI dan Skema

Syarat yang harus dikumpulkan adalah :
1. Foto Copy KTP 1 lembar
2. Foto terbaru ukuran 3 X 4 : 1 lembar (Background Merah)
3. Print out dari website InsCinema Form APL 01 dan APL 02 juga syarat dan ketentuannya.
4. Portofolio hasil karya fotografi (Tehnik Dasar Fotografi)
5. Portofolio utk asisten produser, operator kamera dan editing adalah karya audio visual. Karya yang sudah kalian buat ditunjukkan ke Asesor saat ujian. Bisa melalui Laptop atau Hp

Syarat dimasukan ke dalam amplop coklat besar yg ada berkait tali