LOADING

Pencarian InsCinema

Sarjana, Antara Beban Akademis & Panggung Sosial

By Admin InsCinema 25 May 2020
16Shares

Lulus kuliah dan punya titel sarjana adalah cita-cita nan mulia. Bagi sebagian orang memiliki predikat sarjana mungkin akan menjadi sebuah pencapaian yang hakiki. Tapi apakah gelar tersebut sudah mampu membawa kemaslahatan dalam konteks kehidupan nyata sehari-hari? Indikatornya mudah saja. Bisa terdeteksi dari relevansi aksiologis ilmu yang dimiliki si sarjana dengan kiprah yang bersangkutan di lingkungan masyarakat. Apabila ilmu tadi berguna bagi banyak orang. Maka Insya Allah gelar sarjana yang diperoleh bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, begitu juga kebalikannya.
Asalkan jangan sampai bergelar sarjana hanya sebatas pencapaian kepuasaan status yang hanya dipenuhi dengan makna simbolis. Supaya saat ngisi formulir bisa menceklis kolom yang ada jenjang stratanya dan memajang foto wisuda di ruang tamu serta profil medsosnya, ataupun untuk keperluan panggung-panggung  sosial lainnya.
Gelar sarjana identik dengan intelektualitas, dan kata sarjana diartikan sebagai orang pandai yang ahli  dalam suatu bidang ilmu tertentu.  Sejatinya tidak secara otomatis mahasiswa/i yang telah diwisuda bisa mempertanggngjawabkan gelar ini secara akademis. Sebab antara pemahaman ilmu dan wisuda tidak auto koheren begitu saja. Ijazah dan angka pada transkrip nilai bukanlah mutlak representasi kadar ke intelektualitas seorang sarjana. Dalam indeks prestasi tersebut terkandung banyak variabel seperti halnya presensi, tugas, nilai UTS dan UAS atau nilai pengerjaan proyek. Dan tentu variabel yang sangat subjektif namun berperan signifikan,  yakni otoritas sang dosen dalam memberikan penilaian. Faktor ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Lulus kuliah dan berpredikat sarjana secara paripurna bukan sekadar bertoga, melemparkan topi dan selfie sambil senyum dengan berbagai varian gaya. Dari aspek keilmuwan setidaknya harus ngerti tentang konsistensi antar bab skripsi atau tugas akhir yang konon telah dibuat dan dipertahankannya saat sidang. Selain itu, menjadi sarjana kudunya tahu  menggunakan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. Syukur-syukur kedepannya mampu bersolusi dan berkontribusi pada skala berbangsa dan bernegara.
Lulus kuliah dan bergelar sarjana sebenarnya memiliki beban akademis yang identik dengan status. Beban yang mau tidak mau harus bisa dipertanggngjawabkan selama menyandingkan gelar tersebut dengan nama sang pemiliknya. Contoh sarjana komunikasi, artinya secara akademis bisa mempertangungjawabkan mengenai ilmu komunikasi baik teori ataupun praktiknya. Jangan sampai ada celotehan yang meragukan gelar kesarjanaannya "mosok sarjana komunikasi cara ngomongnya gitu sih". Bila ini ceritanya, maka  si sarjana komunikasi tadi belum jadi sarjana di mata masyarakat dan lingkungan sosialnya, walau sudah yudisium di kampusnya, dan yang pasti telah bikin poin minus almamaternya. Wajar saja bila ada orang yang sengaja tidak menulis gelar sarjananya. Sebab boleh jadi ia merasa belum mampu mengemban beban akademis yang dikandung di dalamnya. 
Naah... Bila sudah bisa membawa kemaslahatan di masyarakat, berilmu dan mampu aplikasikan ilmunya di tatanan sosial masyarakat, silahkan berbanggalah dengan titel sarjananya. Bagi yang sudah diwisuda dan bergelar sarjana tapi belum bisa mengemban beban akademis tadi, marilah introspeksi lalu segera update gelar sarjananya hingga menjadi sarjana yang sebenar-benarnya sarjana yang bisa bertanggung jawab akan beban akademisnya. Dan bagi yang statusnya masih on progres kuliah,  masih ada waktu untuk “kembali” ke kampus.  Belajar dengan sunguh-sungguh agar menjadi sarjana yang sebenar-benarnya sarjana dan bukan sarjana panggung. (iwn)

Artikel Lainnya

Sign In Online Learning

Trainee Room

Download Form APL 1, APL 2, SKKNI dan Skema

Syarat yang harus dikumpulkan adalah :
1. Foto Copy KTP 1 lembar
2. Foto terbaru ukuran 3 X 4 : 1 lembar (Background Merah)
3. Print out dari website InsCinema Form APL 01 dan APL 02 juga syarat dan ketentuannya.
4. Portofolio hasil karya fotografi (Tehnik Dasar Fotografi)
5. Portofolio utk asisten produser, operator kamera dan editing adalah karya audio visual. Karya yang sudah kalian buat ditunjukkan ke Asesor saat ujian. Bisa melalui Laptop atau Hp

Syarat dimasukan ke dalam amplop coklat besar yg ada berkait tali